Minggu, 10 September 2017

Apakah kita sudah menanamkan budi pekerti di keseharian?


Dalam aspek individu dan masyarakat (keluarga), budi pekerti ini mencakup hal-hal mendasar yang sangat diperlukan oleh individu yaitu kesadaran untuk bertingkah laku baik dan selalu menjaga nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai dasar sesungguhnya dapat diajarkan melalui media dan lembaga apapun serta akan lebih baik jika di ajarkan ketika kita masih dini oleh keluarga kita sendiri. Namun tak dapat dipungkiri, pada era globalisasi seperti ini, media menjadi sarana yang paling efektif untuk membentuk kepribadian individu baik media sosial seperti facebook, twitter, dan blog ataupun media pembelajaran berbasis penceritaan seperti dongeng dan mitos untuk anak-anak usia dini yang sejatinya telah ditanamkan oleh orang tua kita semenjak kita masih kecil.

Selanjutnya, tugas kita pada saat ini adalah memilih nilai budi pekerti yang harus diprioritaskan dalam mengatasi permasalahan di abad ke-21 ini terutama dalam masalah degradasi moral ketika moral tidak diselaraskan dengan kemajuan teknologi. Dalam media sosial, kita bisa memilah grup-grup yang memotivasi kita agar menjadi lebih baik dan grup yang senantiasa memberikan tips-tips untuk menghadapi perkembangan zaman yang dinamis ini karena kita sadari , semakin banyak kita melihat dan mendengar tayangan yang bernilai positif, maka tingkah laku kita pun akan positif, namun apabila kita lebih sering melihat dan mendengar hal yang negatif, maka tingkah laku kita pun akan meniru hal-hal yang demikian. Sehingga, dalam dunia media sosial pun, interaksi menjadi bagian yang paling penting seperti hal nya di dunia nyata sehingga kita harus berhati-hati ketika kita berteman di dunia maya, karena secara tidak langsung hal tersebut dapat membentuk kepribadian kita, apakah akan berbudi pekerti luhur dalam arti menanamkan nilai-nilainya dan memahami esensinya ataukah sebaliknya, membentuk kepribadian kita yang tidak selaras dengan budi pekerti luhur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar