Sudah bukan hal baru lagi jika
hampir di tiap sekolah, guru agama dan guru BP diberi wewenang untuk “mengajar”
budi pekerti, sehingga muncul kesan kedua guru itulah yang bertangung jawab
atas merosotnya akhlak dan karakter siswa.
Kita tentu lebih bijak dalam menangapinya.
Karena selain kedua guru itu, guru lainpun sebenarnya tidak dapat lepas dari
tangung jawab “mendidik” siswa dalam berbudi pekerti. Apakah mungkin, guru
fisika akan membiarkan saja muridnya belajar di kelas sambil mengangkat kaki
(jegang, bhs. Jawa), atau guru biologi akan membiarkan siswanya melakukan
praktikum sambil duduk di meja? Tentu tidak. Di sinilah tiap guru, apapun
bidang yang diajarkannya, mengambil peran menyampaikan pendidikan budi pekerti
itu.
Strategi Muatan Pendidikan Budi Pekerti Pada Tiap
Pelajaran
Secara sistematis nilai-nilai budi
pekerti diintegrasikan dalam materi pembelajaran. Dan untuk menumbuhkan
nilai-nilai budi pekerti dalam diri siswa, penyampaiannya harus dalam suasana
kondusif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru dan seluruh staf sekolah
harus mampu menjadi teladan insan berbudi pekerti luhur, baik dalam tutur kata
maupun tindakan. Budi pekerti (karakter) bukan bersifat pelajaran melainkan
proses pendidikan berbasis perilaku. Jadi budi pekerti / karakter itu tidak
diajarkan seperti ilmu pasti atau sosial, melainkan pendidikan yang lebih
mengedepankan contoh perilaku.
Hasil Pendidikan Budi Pekerti
“Bagai teman seiring” ungkapan ini
tepat dipakai untuk mengambarkan dua subjek yang sama-sama mengelola karakter
siswa, yaitu pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti. Yang membedakan
adalah relasi diri terdidik (siswa) dengan implementasi hasil didikan yang
telah diterimanya. Pendidikan agama lebih menekankan pada keyakinan akan
kebenaran nilai-nilai agama yang dianutnya, sedangkan pendidikan budi pekerti
memberi penekanan pada norma perilaku beretika dalam kehidupan berinteraksi.
Pendidikan budi pekerti selalu dihubungkan dengan penghargaan terhadap diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Jadi, seseorang yang berbudi
pekerti berarti ia menghargai diri sendiri, orang lain, serta lingkungannya
karena dengan demikian tergambar dengan jelas nilai-nilai ahklak seperti pada
ajaran agama, apapun agamanya. Dan pada penerapannya, perilaku siswa lebih
cenderung pada sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling
mengasihi baik dalam bertutur kata maupun bertingkah laku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar